Selasa, 05 November 2013

Tokoh-tokoh ini belum ada generasi penerusnya.. Miris


Selamat berkunjung para pembaca di blog ane. Enjoy Bacanya ok 


  • Kuambil buluh sebatang...
  • Kupotong sama panjang...
  • Kuraut dan kuikat dengan benang...
  • Kujadikan layang-layang...
Kemana perginya lagu-lagu yang riang gembira dan menghibur anak-anak ini? Tiba-tiba seperti tergantikan oleh lagu-lagu hits orang dewasa. Begitu anehnya anak-anak menyanyikan lagu-lagu orang dewasa, atau terlalu dibiarkannya anak-anak kita dimanja dengan teknologi seperti gadget, smart phone, internet, dan game online, sehingga mereka menjadi sulit untuk bersosialisasi dan mengembangkan bakatnya.

Pertanyaannya adalah
, Dimana Generasi Penerus Tokoh-tokoh Pencipta Lagu anak tersebut, Berikut adalah nama-nama tokoh pencipta lagu anak, (Semoga Menginspirasi kalian )


1. AT Mahmud

AT Mahmud, yang dikenal sebagai seorang komposer dan pengarang lagu anak-anak, lahir dengan nama Abdullah Totong Mahmud, lahir pada tanggal 3 Februari 1930. Mahmud merupakan anak kelima dari sepuluh bersaudara dari orang tua.

Karirnya di bidang penciptaan lagu anak-anak tidak lepas dari kecintaannya kepada anak-anak. Semuanya dimulai dari aktivitasnya sebagai guru. Di tahun 1963, Mahmud mengajar sebagai Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak (SGTK).Bakat AT Mahmud dilirik oleh Sony Wonder, dengan peluncuran album Libur Telah Tiba, Kesuksesan dua platinum yang diperoleh album Tasya ini mengawali dua album lainnya yaitu, Gembira Berkumpul dan Ketupat Lebaran.

Prestasi sang maestro di bidang seni diakui oleh banyak pihak dengan diterimanya berbagai anugerah, seperti Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Pemerintah Indonesia pada 2003, Piagam Hadiah Seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 1999, juga Lifetime Achievement yang diterimanya pada Anugerah Musik Indonesia.

2. Ibu Sud

 

Ibu Sud, atau yang bernama lengkap Saridjah Niung Bintang Soedibio ini adalah salah seorang pencipta lagu anak-anak. Karirnya ini sudah dimulai bahkan jauh sebelum kemerdekaan Indonesia.

Karya-karya Ibu Sud seperti 'Tik-tik Bunyi Hujan', 'Desaku' hingga 'Burung Kutilang' seperti tak pernah hilang tertelan zaman. Hal itu lah membuat 1.980 anak-anak dan guru pendamping terpilih membuat drama musikal bertajuk 'Senandung Bakti Anak Negeri'. Ibu Sud juga mendapatkan penghargaan dari MURI sebagai EMPU Lagu Anak-anak Indonesia karena sudah menciptakan 480 Lagu anak-anak.

3. Pak Kasur

Soerjono atau biasa dipanggil Pak Kasur (Purbalingga, Jawa Tengah, 26 Juli 1912 - 1992) adalah seorang tokoh pendidikan Indonesia. Ia juga memandu acara Taman Indria di TVRI stasiun pusat Jakarta. Namanya berasal dari julukan "Kak Soer" yang biasa digunakan oleh anak buahnya di Gerakan Kepanduan. Nama ini lama-lama berubah menjadi "Kasur" dan "Pak Kasur". Istrinya Ibu Kasur (Sandiah) juga memandu acara itu.

Ia mulai menjadi guru di HIS Ardjoena School, Bantul, Yogyakarta. Kemudian ia melanjutkan pendidikan di HIK, Bandung. Setelah Indonesia merdeka ia mengasuh acara anak-anak di RRI, dan menciptakan beberapa lagu seperti Naik Delman, Bangun, Sepedaku, Kebunku, dan lain-lain.

4. Papa T Bob

Erwanda Lucas. Pria yang mengambil nama Papa T Bob (lahir 22 Oktober 1960; umur 52 tahun) dari nama anaknya ini adalah penulis lagu yang bertangan dingin berpena emas di zamannya. Papa T Bob merupakan seorang pencipta lagu berkebangsaan Indonesia. Dia dikenal luas oleh masyarakat melalui lagu anak-anak ciptaannya.

Setelah terkenalnya Joshua, menyusul kemudian, Enno Lerian dengan Si Nyamuk Nakal dan Bondan Prakoso yang populer lewat Si Lumba-lumba.

5. Kak Seto

Seto Mulyadi lahir Klaten, 28 Agustus 1951 atau biasa dikenal sebagai Kak Seto adalah psikolog anak dan pembawa acara televisi untuk anak-anak bersama dengan Henny Purwonegoro.
Miris karena anak-anak disuguhi lagu dewasa. Kak Seto pun membuat album lagu anak-anak. Lagunya ada yang baru, ada juga lagu lama.

Pencipta lagu Si Komo, Jangan Lupa Sikat Gigi, dan Cuci Tangan Sebelum Makan ini sudah membagikan 33 perwakilan anak yang hadir dalam pertemuan Hari Anak Nasional tahun 2012. Beliau merekrut anak-anak biasa namun juga memiliki talenta bersuara emas, karena menurut beliau Semua anak di Indonesia Mempunyai Bakat yang luar biasa.

Kata Mereka Tentang Pencipta Lagu Anak-Anak :

Addie MS (Komposer Senior) :

Menurut saya, beliau adalah sosok pribadi yang langka. Tidak seperti kebanyakan orang, AT Mahmud selalu memikirkan nilai pendidikan dalam karya-karyanya. Beliau memang pada dasarnya adalah seorang pendidik. Beliau tidak muluk-muluk mencipta lagu. Sangat sederhana. Dan saya hidup dengan lagu-lagunya pak AT,

Erros (Musician) :

"AT Mahmud komposer terbaik di Indonesia spesialis lagu anak-anak. Sampai hari ini belum ada tanda-tanda ada penerusnya," Beliau humble banget. Seperti lagunya. Karakternya sangat bersahabat. Luar dalamnya beliau ya seperti lagu-lagunya. Sangat apa adanya. Dia menuliskan lagunya dengan hati. Sangat kekeluargaan,

-Tujuan dan Kekuatan di Lagu Anak:-

Tujuan Internal:
1. Melatih Otak Kanan dan kiri
2. Mengubah Mood Anak
3. Belajar Bersosialisasi
4. Melatih Anak Berbicara
5. Melatih kemampuan Dengar
6. Melatih Anak dalam Berhitung (untuk lagu berhitung)

Tujuan Ekternal :
1. Daya beli produk dalam negri Meningkat, dengan membeli kaset/DVD musik anak
2. Meningkatkan asset penjualan dalam Negri
3. Menciptakan anak-anak dalam negri yang berbakat dan dapat bersaing dengan internasional.
4. Membuat Prestasi untuk Indonesia.

Mirisnya,

Para pelaku dunia hiburan seperti tidak tertarik untuk menghadirkan hiburan bagi anak-anak, seperti beberapa waktu yang lalu. Mereka lebih tertarik dengan hiburan yang entah benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat atau tidak, yang penting ratingnya tinggi.
Sudah matikah kreativitas untuk menciptakan hiburan bermutu bagi anak-anak? padahal dulu kita mengenal Tasya , eno lerian, joshua , bondan prakoso , dan banyak lagi. bagaimana dengan sekarang,sebenarnya sekarang banyak penyanyi-penyanyi cilik yang berbakat tapi sangat jarang yang menyanyikan lagu sesuai usiannya. mereka di “paksa” untuk bernyanyi lagu-lagu yang tak sesuai dengan usianya.

Thx for sumber : http://hot.detik..com/music/read/2010/07/06/162408/1394122/228/eross-so7-belum-ada-penerus-at-mahmud
http://id.wikipedia.org
http://www.solopos.com/2012/06/27/kak-seto-buat-buat-album-lagu-anak-197104

Semoga Thread Ane ini Berguna untuk sekalian para pembaca yang tergerak untuk menciptakan lagu Anak, atau bisa menginspirasi mengajarkan lagu-lagu anak kepada Anak-anak kita 
Title: Tokoh-tokoh ini belum ada generasi penerusnya.. Miris
Posted by:Unknown
Published :2013-11-05T07:05:00+07:00
Rating: 3.5
Reviewer: 5 Reviews
Tokoh-tokoh ini belum ada generasi penerusnya.. Miris

China atau Cina ?? manakah yang benar

 
Kenapa kebanyakan sebelum Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) diresmikan kita menulisnya “Tjina”, sesudah EYD diresmikan kita menulisnya “Cina”, karena “tj” diganti dengan “c”.

Akan tetapi sebagian dari orang Cina peranakan di Indonesia menganggap kata “Cina” itu mengandung penghinaan. Mereka lebih suka mempergunakan kata “Tionghoa” untuk menyebut nama bangsa dan nama bahasanya dan “Tiongkok” untuk menyebut nama negaranya. Tidak pernah jelas penghinaan apa yang terkandung dalam kata “Cina” itu. Namun anehnya, mereka sendiri kalau berbicara dalam bahasa Inggris menggunakan kata “China”. Begitu juga untuk menyebut nama bangsa dan nama negaranya, baik yang di benua Asia (People’s Republic of China) maupun yang di pulau Taiwan (Republic of China). Yang ganjil kalau dalam bahasa Indonesia dianggap mempunyai unsur menghina, tetapi dalam bahasa Inggris disambut baik. Artinya tidak dianggap mengandung unsur menghina. Padahal pemakaian kata “Cina” dalam bahasa Melayu sejak dahulu dianggap wajar saja. Kata “Cina” dalam bahasa Melayu sampai masuk ke dalam peribahasa dan menjadi ungkapan yang biasa digunakan sehari-hari tanpa ada kandungan penghinaan, misalnya peribahasa yang berbunyi “bagai Cina karam” atau ungkapan “baju potongan Cina”. Dalam bahasa Sunda juga ada peribahasa yang berbunyi “jiga Cina dipangwayangkeun”.


Menurut perkiraan saya, timbulnya anggapan bahwa perkataan “Cina” itu mengandung penghinaan, sejak orang-orang Cina di Indonesia mau disebut “Tionghoa” dan negerinya harus disebut “Tiongkok”, yaitu pada zaman Demokrasi Terpimpin ketika Baperki kian berpengaruh, karena dari lingkungan itulah mulai timbul anggapan bahwa kata “Cina” itu mengandung penghinaan. Jadi hanya sebagai alasan, karena dalam masyarakat pengguna bahasa Melayu dan Indonesia sendiri tidak ada maksud menghina atau merendahkan dengan memakai istilah “Cina” itu. Hanya orang Cina tertentu (artinya tidak semua) dan para Indonesianis semacam Ben Anderson yang menganggap kata “Cina” mengandung penghinaan.

Akan tetapi belakangan ini dalam sejumlah surat kabar dan majalah perkataan “Cina” itu diganti menjadi “China”. Konon karena surat kabar terkemuka di Jakarta pernah ditegur atau diminta oleh pejabat dari kedutaan besar RRC agar jangan menggunakan perkataan “Cina”. Sebagai lembaga yang merasa tidak berdaulat dalam menggunakan bahasa nasionalnya, maka surat kabar itu mengikuti teguran atau permintaan itu dan dalam surat kabarnya sejak itu “Cina” selalu ditulis “China”. Dan karena surat kabar itu yang paling terkemuka di Indonesia, maka surat-surat kabar lain baik di Jakarta maupun di daerah tanpa diminta oleh pejabat kedutaan yang bersangkutan, secara sukarela menyalahi EYD dalam menuliskan kata tersebut dengan “China”.

Kita selalu ingin menjadi “orang baik” menurut orang lain, tetapi lupa bahwa kita sendiri sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat harus menentukan apa yang baik bagi kita. Memang sebagai bangsa yang lama menjadi jajahan orang lain, kita selalu terbiasa ingin disebut baik oleh orang lain, yaitu oleh bangsa yang menjajah kita. Oleh karena itu, kita tidak mempunyai tolok-ukur untuk memilah-milah mana yang baik dan mana yang tidak. Dengan kata lain kita terbiasa menjadi objek, padahal sebagai bangsa merdeka dan berdaulat kita harus menjadi subjek. Mengubah mentalitas sebagai objek menjadi subjek memang tidak mudah. Apalagi dalam terjangan globalisasi yang datang dengan dukungan modal kuat dan menggunakan sarana teknologi mutakhir yang maju.

Kita tidak tahu apakah ada pegawai Kedutaan Besar Cina di Kualalumpur yang meminta pers di sana agar menuliskan nama negeri dan bangsanya dengan “China” seperti dalam bahasa Inggris. Yang jelas dalam bahasa Melayu sampai sekarang orang tetap menuliskannya “Cina” – sesuai dengan EYD yang juga mereka pakai.

Ada kemungkinan tidak ada pegawai Kedutaan Besar Cina di Kuala Lumpur yang merasa terganggu dengan tulisan “Cina” sehingga tidak mengusulkan agar diganti dengan “China” seperti dalam bahasa Inggris. Ada juga kemungkinan ada pegawai Kedutaan Besar Cina di sana yang meminta wartawan surat kabar Melayu agar jangan menulis “Cina” tetapi harus “China”, hanya wartawan yang bersangkutan menganggap bahwa soal bagaimana menulis sesuatu dalam bahasanya bukanlah urusan orang Cina, sehingga usul atau permintaan itu tidak dipenuhi. Artinya wartawan Melayu itu mempunyai harga diri dan menyadari kedudukannya sebagai bangsa yang berdaulat yang berhak mengatur cara penulisan sesuatu dalam bahasanya sesuai dengan aturan yang berlaku. Tentu saja sikap demikian tidak usah dihubungkan dengan kenyataan bahwa orang Malaysia yang mempunyai perkebunan, sedangkan TKI Indonesia bekerja mencari makan.

Peribahasa klasik yang berbunyi bahwa kalau kita ingin dihargai orang lain, kita harus tahu menghargai diri sendiri, tampaknya telah dilupakan oleh banyak orang termasuk oleh wartawan surat kabar paling terkemuka di Jakarta. Atau tidak sampai dia mengerti karena mentalitasnya adalah mentalitas manusia jajahan yang merasa senang tetap menjadi objek.

Cina atau China?!

Jawabannya adalah China/Tionghoa/Chinese.

China bacanya Chayna, ato bilang aja orang Tionghua, kalo dibilang cina pasti kesinggung boleh di buktiin ekspressi nya bilang Chayna, Tionghua sama cina.

Kata ‘China’ tersebut sudah dibakukan, dengan tulisan ‘China’ dan pelafalan ‘Caina’. ‘Cina’ dinilai merendahkan, merupakan penghinaan untuk orang China sendiri, dan bangsanya.

Makna penghinaan tersebut tidak lepas dari histori yang terjadi di China. Kata ‘Cina’ mengingatkan bangsanya akan penderitaan ketika berperang dengan Jepang, saat itu orang-orang Jepang memanggil orang China dengansebutan ‘Cina’. istilah ‘Cina’ sering diucapkan dengan aksen yang penuh dengan rasa kebencian.

Akibatnya, sekelompok kaum terdidik merasakan perlunya istilah lain untuk menyebut diri mereka. Kata ‘Cina’ dilontarkan dengan maksud menghina baik dari bangsa barat atau bangsa lain yg sedang ingin menguasai China pada saat itu.

Ada yang berpendapat bahwa kata ‘Cina’ berasal dari bahasa Jepang ‘Zhi na’ yang artinya orang sakit. Dan ada juga yang berpendapat, istilah ‘Cina’ digunakan oleh Jepang yang bermakna daerah ujung, atau daerah pinggiran, serta orang udik.

Orang China atau keturunan China di Indonesia pun tidak mau di panggil ‘Cina’ karena terkesan rasis. orang-orang pribumi biasa menyebut ‘Cina’ dengan konotasi penuh kebencian, Itu merupakan dampak dari histori yang panjang dalam pengakuan dan penerimaan orang China di tanah air.

Kebanyakan orang china di indonesia ga suka dipanggil cina, katanya kaya distriminasi banget nadanya, kayak ngehina, so jangan ya

Jangan jauh2 dah, kita sebagai orang Indonesia mau ngga kita di panggil dengan sebutan negara yang ngga lengkap seperti " Indon " oleh negara sebelah itu ??
menurut ane sih jelek gan kalo Indonesia dipanggil " Indon " ga enak di dengerin, iya nggak ?
Orang China aja nulis tulisan Indonesia di tulisan mereka yang menurut orang Indonesia ga bisa di baca aja mereka dengan jelas mengatakan "INDONESIA" bukan Indon, Indo, atau apa lah.

KENAPA MANUSIA KEBANYAKAN Sebelum Ejaan yang Disempurnakan (EYD) diresmikan kita menulisnya “Tjina”, sesudah EYD diresmikan kita menulisnya “Cina”, karena “tj” diganti dengan “c”. Akan tetapi sebagian dari orang Cina peranakan di Indonesia menganggap kata “Cina” itu mengandung penghinaan. Mereka lebih suka mempergunakan kata “Tionghoa” untuk menyebut nama bangsa dan nama bahasanya dan “Tiongkok” untuk menyebut nama negaranya. Tidak pernah jelas penghinaan apa yang terkandung dalam kata “Cina” itu. Namun anehnya, mereka sendiri kalau berbicara dalam bahasa Inggris menggunakan kata “China”. Begitu juga untuk menyebut nama bangsa dan nama negaranya, baik yang di benua Asia (People’s Republic of China) maupun yang di pulau Taiwan (Republic of China). Yang ganjil kalau dalam bahasa Indonesia dianggap mempunyai unsur menghina, tetapi dalam bahasa Inggris disambut baik. Artinya tidak dianggap mengandung unsur menghina. Padahal pemakaian kata “Cina” dalam bahasa Melayu sejak dahulu dianggap wajar saja. Kata “Cina” dalam bahasa Melayu sampai masuk ke dalam peribahasa dan menjadi ungkapan yang biasa digunakan sehari-hari tanpa ada kandungan penghinaan, misalnya peribahasa yang berbunyi “bagai Cina karam” atau ungkapan “baju potongan Cina”. Dalam bahasa Sunda juga ada peribahasa yang berbunyi “jiga Cina dipangwayangkeun”.

Menurut perkiraan saya, timbulnya anggapan bahwa perkataan “Cina” itu mengandung penghinaan, sejak orang-orang Cina di Indonesia mau disebut “Tionghoa” dan negerinya harus disebut “Tiongkok”, yaitu pada zaman Demokrasi Terpimpin ketika Baperki kian berpengaruh, karena dari lingkungan itulah mulai timbul anggapan bahwa kata “Cina” itu mengandung penghinaan. Jadi hanya sebagai alasan, karena dalam masyarakat pengguna bahasa Melayu dan Indonesia sendiri tidak ada maksud menghina atau merendahkan dengan memakai istilah “Cina” itu. Hanya orang Cina tertentu (artinya tidak semua) dan para Indonesianis semacam Ben Anderson yang menganggap kata “Cina” mengandung penghinaan.

Akan tetapi belakangan ini dalam sejumlah surat kabar dan majalah perkataan “Cina” itu diganti menjadi “China”. Konon karena surat kabar terkemuka di Jakarta pernah ditegur atau diminta oleh pejabat dari kedutaan besar RRC agar jangan menggunakan perkataan “Cina”. Sebagai lembaga yang merasa tidak berdaulat dalam menggunakan bahasa nasionalnya, maka surat kabar itu mengikuti teguran atau permintaan itu dan dalam surat kabarnya sejak itu “Cina” selalu ditulis “China”. Dan karena surat kabar itu yang paling terkemuka di Indonesia, maka surat-surat kabar lain baik di Jakarta maupun di daerah tanpa diminta oleh pejabat kedutaan yang bersangkutan, secara sukarela menyalahi EYD dalam menuliskan kata tersebut dengan “China”.

Kita selalu ingin menjadi “orang baik” menurut orang lain, tetapi lupa bahwa kita sendiri sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat harus menentukan apa yang baik bagi kita. Memang sebagai bangsa yang lama menjadi jajahan orang lain, kita selalu terbiasa ingin disebut baik oleh orang lain, yaitu oleh bangsa yang menjajah kita. Oleh karena itu, kita tidak mempunyai tolok-ukur untuk memilah-milah mana yang baik dan mana yang tidak. Dengan kata lain kita terbiasa menjadi objek, padahal sebagai bangsa merdeka dan berdaulat kita harus menjadi subjek. Mengubah mentalitas sebagai objek menjadi subjek memang tidak mudah. Apalagi dalam terjangan globalisasi yang datang dengan dukungan modal kuat dan menggunakan sarana teknologi mutakhir yang maju.

Kita tidak tahu apakah ada pegawai Kedutaan Besar Cina di Kualalumpur yang meminta pers di sana agar menuliskan nama negeri dan bangsanya dengan “China” seperti dalam bahasa Inggris. Yang jelas dalam bahasa Melayu sampai sekarang orang tetap menuliskannya “Cina” – sesuai dengan EYD yang juga mereka pakai.

Ada kemungkinan tidak ada pegawai Kedutaan Besar Cina di Kuala Lumpur yang merasa terganggu dengan tulisan “Cina” sehingga tidak mengusulkan agar diganti dengan “China” seperti dalam bahasa Inggris. Ada juga kemungkinan ada pegawai Kedutaan Besar Cina di sana yang meminta wartawan surat kabar Melayu agar jangan menulis “Cina” tetapi harus “China”, hanya wartawan yang bersangkutan menganggap bahwa soal bagaimana menulis sesuatu dalam bahasanya bukanlah urusan orang Cina, sehingga usul atau permintaan itu tidak dipenuhi. Artinya wartawan Melayu itu mempunyai harga diri dan menyadari kedudukannya sebagai bangsa yang berdaulat yang berhak mengatur cara penulisan sesuatu dalam bahasanya sesuai dengan aturan yang berlaku. Tentu saja sikap demikian tidak usah dihubungkan dengan kenyataan bahwa orang Malaysia yang mempunyai perkebunan, sedangkan TKI Indonesia bekerja mencari makan.

Peribahasa klasik yang berbunyi bahwa kalau kita ingin dihargai orang lain, kita harus tahu menghargai diri sendiri, tampaknya telah dilupakan oleh banyak orang termasuk oleh wartawan surat kabar paling terkemuka di Jakarta. Atau tidak sampai dia mengerti karena mentalitasnya adalah mentalitas manusia jajahan yang merasa senang tetap menjadi objek.

Cina atau China?! Jawabannya adalah China/Tionghoa/Chinese.
China bacanya Chayna, ato bilang aja orang Tionghua, kalo dibilang cina pasti kesinggung boleh di buktiin ekspressi nya bilang Chayna, Tionghua sama cina.
Kata ‘China’ tersebut sudah dibakukan, dengan tulisan ‘China’ dan pelafalan ‘Caina’. ‘Cina’ dinilai merendahkan, merupakan penghinaan untuk orang China sendiri, dan bangsanya.

Makna penghinaan tersebut tidak lepas dari histori yang terjadi di China. Kata ‘Cina’ mengingatkan bangsanya akan penderitaan ketika berperang dengan Jepang, saat itu orang-orang Jepang memanggil orang China dengan sebutan ‘Cina’. istilah ‘Cina’ sering diucapkan dengan aksen yang penuh dengan rasa kebencian.

Akibatnya, sekelompok kaum terdidik merasakan perlunya istilah lain untuk menyebut diri mereka. Kata ‘Cina’ dilontarkan dengan maksud menghina baik dari bangsa barat atau bangsa lain yg sedang ingin menguasai China pada saat itu.

Ada yang berpendapat bahwa kata ‘Cina’ berasal dari bahasa Jepang ‘Zhi na’ yang artinya orang sakit. Dan ada juga yang berpendapat, istilah ‘Cina’ digunakan oleh Jepang yang bermakna daerah ujung, atau daerah pinggiran, serta orang udik.

Orang Orang China atau keturunan China di Indonesia tidak mau di panggil ‘Cina’ karena terkesan rasis. orang-orang pribumi biasa menyebut ‘Cina’ dengan konotasi penuh kebencian, Itu merupakan dampak dari histori yang panjang dalam pengakuan dan penerimaan orang China di tanah air.

Kalo kita pengin dihargain orang lain, kita harus bisa menghargai orang lain juga gan. alangkah indahnya kalo kita saling menghormati dan menghargai tanpa sara gan betapa tentramnya negeri ini

source : kaskus

Pesan dikit nih gan
ane disini orang indonesia asli, ane sekedar berbagi artikel mudah-mudahan bisa membuat orang-orang yang indonesia bersatu, jauh dari segala perpecahan dan SARA, sehingga negri kita tercinta ini bisa semakin maju.


Title: China atau Cina ?? manakah yang benar
Posted by:Unknown
Published :2013-11-05T06:37:00+07:00
Rating: 3.5
Reviewer: 5 Reviews
China atau Cina ?? manakah yang benar

Senin, 04 November 2013

Soeharto lebih baik dari SBY ??? Baca dulu gan

Assalamualaikum para pembaca sekalian

di postingan ane kali ini, ane bakal agak berbicara sedikit tentang ekonomi dan politik. 
Seperti yang kita tahu, kemarin - kemarin harga BBM kembali naik lagi yang otomatis akan menaikan biaya hidup kita sehari-hari. Setelah kenaikan harga BBM itu, ane agak tergelitik dengan celotehan segelintir orang yang bilang "ternyata Suharto jauh lebih baik dari SBY" Buat agan-agan yg berpendapat seperti itu, coba baca postingan yang satu ini. 
Lets Cekidot


        
SBY memang bukan Presiden terhebat Indonesia, setidaknya terlalu dini untuk menyebut demikian. Tapi mengatakan bahwa Soeharto lebih baik daripada SBY adalah pernyataan yang mengada ada. Saya akan coba jabarkan mengapa

Alasan utama, Soeharto katanya lebih baik adalah

1. Ekonomi
2. Stabilitas dan keamanan
3. Pembangunan
4. Minim korupsi

Mari kita telaah satu persatu..

1. Ekonomi

Betulkah era Soeharto lebih baik daripada SBY? Tolok ukurnya apa? Harga yang lebih murah? 

Kenaikan harga, sesungguhnya adalah efek dari pertumbuhan ekonomi. Kalau anda lihat Jepang, harga di sana tidak naik naik sejak lama. Tapi itu juga karena ekonomi Jepang sejak lama berantakan. Pertumbuhan ekonominya minus. Saya bukan ekonom sehingga tidak bisa menjelaskan mengapa, namun fakta tadi dengan mudah anda bisa temukan apabila anda rajin baca baca majalah luar atau situs berita dari luar negri.

Kenyataan bahwa harga harga naik, sesungguhnya diikuti oleh daya beli masyarakat yang juga meningkat. Tidakkah anda memperhatikan pertumbuhan kota kota di Indonesia? Ataukah anda berkesimpulan tanpa benar benar melihat kenyataan di lapangan. Saya sejak 2004 sudah mulai berkeliling Indonesia dari kota ke kota dan pertumbuhan kota di Indonesia begitu luar biasa. Kehidupannya melaju dan roda perekonomiannya berputar kencang. Terlihat dari aktifitas masyarakatnya.

Saya sebenarnya juga enggan untuk mengakui ini mengingat saya sangat keras mengritik SBY, tapi kenyataannya dalam 2 kali periode kepemimpinannya, secara makro ekonomi kita bukan hanya membaik tapi menguat.

Banyak yang bilang, terakhir kali ekonomi Indonesia tumbuh 7% adalah pada era Soeharto, dan itu memang benar. Tidak ada lagi Presiden yang bisa mencapai seperti itu hingga hari ini, tapi 97 kita mulai merasakan krisis ekonomi gila gilaan dan 98 ketika akhirnya krisis ekonomi tersebut mulai mencekik kelas menengah Indonesia, maka desakan agar Soeharto turun semakin keras.

Para pendukungnya melihat keadaan sudah tidak memungkinkan, akhirnya lompat ke sekoci dan meninggalkan Soeharto.

Apa bedanya, krisis ekonomi global 1997 dan 2008 terhadap Indonesia?

Pada 97 kita roboh, pada 2008 kita bertahan bahkan, tumbuh!

Mengapa krisis ekonomi yang sama sama melanda dunia, berdampak beda terhadap Indonesia? Karena tim ekonomi kedua pemerintahan beda kualitasnya. Yang satu masih jadi kantong partai, yang satu lagi professional non partai.

Yang satu membuai rakyat dengan kemakmuran semu sementara tim ekonomi di 2008 berhasil membuat perekonomian Indonesia kuat karena dirinya sendiri. Bukan karena aliran uang dari luar. Konsumsi dalam negeri Indonesia tinggi sehingga tidak terpengaruh banyak terhadap krisis luar.

Justru ini juga yang menjadi Indonesia daya tarik bagi Negara Negara lain.. “Indonesians are still buying? At this time? Well, since we cant sell these to our people, might as well sell these to the Indonesians”

Dan itulah bagaimana Indonesia pada akhirnya jadi pasar bagi luar negri. Sah sah aja bagi mereka, ini perdagangan. Kuncinya ada di tangan pemerintah untuk menggenjot produksinya Indonesia juga. Melindungi pedagang pedagang Indonesia dari hajaran produk impor.

Sesuatu yang masih jadi Peer bagi pemerintahan SBY

Tapi secara keseluruhan, mengatakan SBY lebih buruk dari Soeharto secara ekonomi, adalah pernyataan yang nyasar.

2. Stabilitas dan keamanan

Katanya di era Soeharto semuanya lebih stabil, lebih aman, tidak ada terorisme, tidak ada pemboman, tidak ada gangguan terhadap keamanan.

Ya jelas.

Ibaratnya, kalau para penjahat jadi penguasa sebuah daratan dan menjadikannya rumah, maka daratan itu akan tentram . Kalau daratan itu direbut kembali oleh para jagoan, maka penjahat akan lakukan segala macam hal untuk merebut kembali. Termasuk, dengan serangan serangan.

Ketika Soeharto memegang Indonesia, tidak ada yang bisa melawan. Media semuanya dibawah sensor Mentri Penerangan dengan kalimat saktinya “Atas instruksi bapak Presiden”. Kalau ada media yang membandel, dibredel dan ditutup. Siapapun yang berani menentang, dihilangkan, kemungkinan besar dibunuh.

Ini bukan keamanan, ini pengekangan.

Ini pembungkaman.

Musti diingat, karena ini sejarah dan buku pelajaran sejarah jaman sekarang tidak mengajarkan ini, bahwa ketika bulan Mei 98 BBM dinaikkan, lalu protes bermunculan oleh para mahasiswa, tanggal 12 mei atas nama stabilitas dan keamanan, peluru membunuh 4 aktivis Trisakti. Peluru tajam. Peluru tajam aparat kita sendiri, menembus tubuh rakyat kita sendiri.

Bisa keluar dari markas mereka membawa peluru tajam untuk menghadapi mahasiswa Indonesia saja sudah patut untuk dipertanyakan. Ini mahasiswa Indonesia. Bukan tentara Belanda yang ga bisa move on dan pengen menjajah kita kembali. Ini rakyat Indonesia. Ini rakyatnya Soeharto.

Setelah itu selama 3 hari berturut turut dari 13 sampai 15 mei, kerusuhan terbesar yang jadi bagian tergelap dari Indonesia pecah. Pemerkosaan. Pembunuhan. Penjarahan. Pembakaran.

Ini stabilitas yang dipuja puji tersebut?

Belum lagi nama nama aktivis yang hilang pada masa tersebut dan tidak pernah kembali, bagaimana nasib orang tua mereka? Istri dan anak mereka? Untuk setiap orang yang bilang bahwa Indonesia lebih enak di era Soeharto, beranikah mereka berkata demikian di hadapan seorang Ibu yang tubuhnya lemas, kuyu tapi matanya masih tajam membara menuntut kejelasan dan keadilan karena anaknya hilang?

Di era SBY, kebebasan berpendapat memang membawa bingkisan bau amis. More freedom sometimes means more problems. But as you grow, you realize that the more problems we face AND dealt with, the more we grow better as a person

Kuncinya memang, menyikapi kebebasan dengan kedewasaan dan kecerdasan. Bukan hidup dalam kekangan sangkar emas bertuliskan “BEBAS” dari untaian berlian.

3. Pembangunan

Soeharto disebut “Bapak Pembangunan”. Katanya tidak ada orang lebih hebat dari Soeharto soal pembangunan.

Menurut saya, siapapun Presidennya, kalau punya waktu 32 tahun untuk menjabat ya pasti bisa melakukan pembangunan yang signifikan.

Lagi pula pertanyaannya, dalam 32 tahun pemerintahan Soeharto, memangnya yang dibangun Indonesia atau Jawa?

Bukankah pasca era Soeharto yang disayangkan semua orang adalah pembangunan yang tidak merata dan sentralistik. Makanya Jakarta jadi kota tujuan semua orang dari seluruh pelosok Indonesia.

Ini kan sebuah permasalahan yang mudah untuk dipahami: Why does everybody goes to Jakarta? Because that’s where the money is. In other words, there are no money in other places in Indonesia.

Lagipula, bicara pembangunan infrastrukut, yang merasakan jembatan layang, jalan tol, sekolah sekolah bagus, fasilitas kesehatan yang mumpuni, dll kan Jakarta. Bukan kota lain

Sekarang justru kota kota seperti Semarang, Solo, Palembang, Medan, Makassar, Pekanbaru, Padang, termasuk Bandung dan Surabaya yang dari dulu sudah dianggap maju, dan masih banyak lagi kota kota lain di Indonesia, mengalami pertumbuhan infrastruktur yang hebat

Lagipula, mengatakan Soeharto adalah bapak pembangunan, memberi kesan lupa bahwa 30% dana pembangunan Republik Indonesia selama 32 tahun Soeharto memimpin, menghilang ditelan Soeharto dan kroninya total sebesar 350 Triliun dari APBN

Ini bukan hanya fakta yang ditemukan oleh kita sendiri di Indonesia, fakta ini ditemukan oleh Transparency International, majalah TIME asia, dan masih banyak lagi. TIME asia bahkan sampai dituntut oleh keluarga Soeharto yang berakhir pada kekalahan keluarga Soeharto

Dalam konteks pembangunan, Soeharto inc (julukan majalah TIME asia untuk Soeharto dan kroninya) menguasai property seluas 3.6 juta hektar. Tahu ga itu sebesar apa? Itu sebesar Negara Belgia -_-*

4. Minim korupsi

Sebenarnya tidak perlu dijelaskan lagi setelah keterangan di atas, tapi untuk menambah warna pada bagian ini, saya mau mengingatkan mengapa hari ini korupsi kesannya merebak dan dulu tidak.

Perhatikan baik baik: Bedakan antara tidak ada korupsi, dan korupsi tidak pernah diberitakan.

Tidak ada berita tentang korupsi, bukan berarti tidak ada korupsi. Seperti yang tertulis di atas tadi, jaman dulu pemberitaan dikontrol rezim Soeharto. Kalau ada yang memberitakan, dibubarkan.

Hari ini, justru kita harusnya bahagia dengan adanya segala pemberitaan korupsi di media. Karena itu berarti, korupsinya ketauan dan diproses. Tentu prosesnya tidak sempurna, karena tidak mudah membongkar dan menghilangkan kebiasaan yang sudah dibenarkan selama 32 thn oleh Soeharto

Korupsi sudah jadi kebiasaan dan dianggap benar. Orang jaman skarang susah untuk terima bahwa “mark up” adalah korupsi. Kenyataannya ya memang mark-up itu korupsi. Supaya gampang memahami mark up adalah korupsi, tanyakan saja diri anda sendiri: Ketika anda me-mark-up sesuatu, orang lain tahu tidak? Atau klien anda tahu tidak? Kalau anda diam diam melakukannya, maka ada unsur pembohongan disitu.

Perlawanan terhadap korupsi jadi perjuangan bersama, karena prakteknya sampai kepada sekitar kita.



Sepanjang tulisan ini, jelas bahwa merasa era SBY lebih buruk dari era Soeharto adalah benar benar kesalah pahaman yang cenderung aneh. Belum tentu prestasi SBY tentunya, tapi yang pasti ERAnya SBY lebih baik. SAya rasa era ini hasil kerja sama rakyat Indonesia yang memperjuangkan kebaikan untuk Indonesia, di bawah kepemimpinan SBY

Lets be real here.

Masak iya SBY lebih buruk daripada Soeharto? Dosanya SBY adalah: Cemen. Tidak bisa tegas menindak dosa dosa orang lain yg merusak Indonesia. Diam di saat banyak gangguan terhadap kebhinnekaan, gangguan dalam bentuk korupsi (termasuk di bawah hidungnya sendiri) Sementara, dosanya Soeharto adalah: Dia pelaku dosanya. Bersama kroninya, hingga kini telah menghilangkan 350 triliun uang rakyat dan tidak pernah kembali

TAPI

Menutup tulisan ini, saya mau mengumumkan bahwa Soeharto menang atas SBY dalam 2 hal:

1. Senyum. Soeharto senyum mulu kerjaannya (then again, joker laugh all the time too) sementara SBY mukanya selalu manyun.
2. Hobi. Soeharto, hobinya adalah main burung perkutut dan menyalakan mesin koleksi Harley-nya (hasil gratifikasi tentunya) tapi hanya didengarkan suaranya. Kadang sesekali keliling rumahnya, dibonceng. Sementara SBY hobinya bikin album. Sampe 4 album pula -_-* Di sini Soeharto menang, hobinya Soeharto rada membumi, sementara hobinya SBY rada membieber.

CATATAN:

Ane bukan pendukung SBY, bukan juga pembenci Pak Harto,, cuma setelah baca tulisan di atas ternyata ada benernya juga 
yang pasti siapapun PRESIDEN nya, orang itu harus bisa membuat Indonesia menjadi jauh lebih baik lagi 
Semoga nanti di 2014 Indonesia mendapatkan Presiden yg bisa membawa perubahan ke Indonesia yang lebih baik lagi 
SATU HAL LAGI, KALO KITA SEKARANG MASIH HIDUP DI ZAMAN OTORITER KAYA DULU ZAMAN SOEHARTO, ANE YAKIN INI PEMBACA TERCINTA GAK BAKALAN ADA GAN, SOALNYA KALO ADA PEMBACA YG GAK PRO SAMA PEMERINTAHAN KAYANYA MEREKA BAKAL DI CULIK TERUS DI BUNUH 


Source : pandji.com
Title: Soeharto lebih baik dari SBY ??? Baca dulu gan
Posted by:Unknown
Published :2013-11-04T15:13:00+07:00
Rating: 3.5
Reviewer: 5 Reviews
Soeharto lebih baik dari SBY ??? Baca dulu gan

Minggu, 03 November 2013

Top Secret Terkuak! “Operasi Alpha” Saat Rezim Orde Baru

“Operasi Alpha” (Alpha Operation), TNI-AU Melakukan Pembelian 32 Pesawat A4 Skyhawk Secara Rahasia Dari Israel.

Alpha Operation

“Mengecewakan! Rencana terbang yang susah payah sudah kususun rapi, langsung dibatalkan pagi-pagi. Aku mendapat perintah untuk menghadap komandan skadron. Yang terpikir, aku tidak lulus latihan terbang di Israel dan pulang ke Indonesia sebagai pilot pesakitan.

Semua bayangan buruk musnah sudah. Aku ternyata menerima perintah baru untuk terbang dalam format sama, tetapi berbeda rute. Sebuah peta disodorkan lengkap dengan titik-titik rute.

Ada sebuah garis merah yang wajib diterobos masuk dan dalam waktu dua belas menit harus kembali ke luar. Yang membuatku gugup, garis merah itu adalah garis perbatasan antara Israel dan Suriah”.



Cerita diatas adalah sepenggal kisah dari seorang pilot yang tergabung dalam Operasi Alpha (Operation Alpha), yaitu operasi clandestine (operasi gelap, diam-diam dan sangat rahasia) terbesar yang dilakukan oleh TNI AU, dimana TNI AU melatih pilot dan melakukan pembelian 32 pesawat A-4 Skyhawk dari Israel.

Berikut adalah kutipan tentang Operasi Alpha yang diambil dari buku otobiografi Djoko F Poerwoko “Menari di Angkasa”.


Operasi Alpha
Memasuki tahun 1979, isu tentang bakal dilakukannya pergantian kekuatan pesawat-pesawat tempur TNI AU sudah mulai bergulir. Hal ini sebenarnya wajar saja, mengingat kondisi pesawat tempur F-86 Sabre dan T-33 Thunderbird memang sudah tua.

F-86 Sabre




T-33 Thunderbird


Karena kedua jenis pesawat tersebut sudah tua, sehingga kemudian pemerintah harus mencari negara produsen yang bisa menjual pesawatnya dengan segera. Amerika Serikat ternyata bisa memberikan 16 pesawat F-5 E/F Tiger II. Tetapi ini masih belum cukup untuk mengisi kekosongan skadron-skadron tempur Indonesia.

Dari penggalian intelijen, Mabes ABRI ternyata kemudian mendapatkan berita bahwa Israel bermaksud akan melepaskan armada A-4 yang mereka miliki. Indonesia dan Israel memang tidak memiliki hubungan diplomatik.

Tetapi pada sisi lain, pembelian armada pesawat tersebut akhirnya terus diupayakan secara klandestin (rahasia), oleh karena pasti akan menjadi polemik dalam masyarakat apabila tersiar di media massa.

Menuju Arizona, Amerika SerikatUsai tugas menerbangkan F-86 Sabre aku sempat terbang lagi dengan T-33. Namun pada kenyataannya, kondisi kedua pesawat tempur tersebut sudah sangat jauh menurun. Kami semua akhirnya bersyukur, setelah dibuka dua proyek besar untuk mendatangkan kekuatan baru melalui Operasi Komodo yakni pesawat Northrop F-5 E/F Tiger II, serta Operasi Alpha untuk menghadirkan pesawat A-4 Skyhawk.


Kerahasiaan tingkat tinggi sudah terlihat dari tata cara pemberangkatan personel. Saat kami semua sudah siap untuk berangkat, tidak seorang pun tahu, kemana mereka harus pergi.

Operasi Alpha dimulai dengan memberangkatkan para teknisi Skadron Udara 11. Setelah tujuh gelombang teknisi, maka berangkatlah rombongan terakhir yang terdiri dari sepuluh penerbang untuk belajar mengoperasikan pesawat.

Sebagai tim terakhir, kami mendapat pembekalan secara langsung di Mabes TNI AU. Awalnya hanya mengetahui bahwa para penerbang akan berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar terbang disana sedangkan informasi lainnya masih sangat kabur.

Setelah mengurus segala macam surat-surat dan beragam kelengkapan berbau “Amerika”, akhirnya kami berangkat menuju Singapura, dengan menggunakan penerbangan Garuda Indonesia dari Bandara Halim Perdanakusuma.

Bandara Paya Lebar Singapura

Kami mendarat pada senja hari di Bandara Paya Lebar, Singapura, langsung diantar menuju hotel Shangrila.

Di hotel tersebut ternyata telah menunggu beberapa petugas intel dari Mabes ABRI, berikut sejumlah orang yang masih asing dan sama sekali tidak saling dikenalkan.

Kami akhirnya mulai menemukan jawaban bahwa arah sebenarnya tujuan kami bukanlah ke Amerika Serikat melainkan ke Israel. Sebuah negara yang belum terbayangkan keadaannya dan mungkin paling dibenci oleh masyarakat Indonesia.

Saat itu salah satu perwira BIA (Badan Intelijen ABRI, BAIS sekarang) yang telah menunggu, segera mengambil semua paspor yang kami miliki dan mereka ganti dengan Surat Perintah Laksana Paspor (SPLP). Keterkejutanku semakin bertambah dengan kehadiran Mayjen Benny Moerdani, waktu itu kepala BIA, mengajak rombongan kami makan malam.


Dalam kesempatan tersebut beliau dengan wajah dingin dan kalimat lugas, tanpa basa-basi langsung saja mengatakan:

”Misi ini adalah misi rahasia, maka yang merasa ragu-ragu, silahkan kembali sekarang juga. Kalau misi ini gagal, negara tidak akan pernah mengakui kewarganegaraan kalian. Namun, kami tetap akan mengusahakan kalian semua bisa kembali dengan jalan lain. Misi ini hanya akan dianggap berhasil, apabila ‘sang merpati ‘ (pesawat yang dibeli – pen.) telah hinggap…”


Mendengar ucapan beliau, perasaanku langsung bergetar! Wah, ini sudah menyangkut operasi rahasia beneran mirip James Bond, bahkan sekalanya lebih besar!

Leonardus Benyamin Moerdani

Bagaimana mungkin membawa satu armada pesawat tempur masuk ke Indonesia tanpa diketahui orang?

Rasa terkejut semakin besar, oleh karena kami bersepuluh kemudian langsung berganti identitas yang mesti kuhapal diluar kepala saat itu juga.

Setelah acara makan malam di hotel, kami harus segera bergegas kembali menuju Bandara Paya Lebar Singapura dan terbang menuju Frankfurt dengan menggunakan Boeing 747 Lufthansa.

Mulai sekarang, kami tidak boleh bertegur sapa, duduk saling terpisah, namun masih dalam batas jarak pandang.

Begitu mendarat di Bandara Frankfurt, kami harus berganti pesawat lagi untuk menuju Bandara Ben Gurion di Tel Aviv, Israel. Perjalanan semakin aneh, baru saja berdiri bengong karena masih jet lag, tiba-tiba seseorang langsung menyodorkan boarding pass untuk penerbangan berikutnya tersebut, yaitu ke Tel Aviv.

Sampai di Bandara Ben Gurion Tel Aviv sesudah terbang sekitar empat jam, aku pun turun bersama para penumpang lain dan teman-temanku. Saling pandang dan cuma melirik saja, harus kemana jalan, cuma mengikuti arus penumpang lain yang menuju pintu keluar.

Tetapi tanpa terduga, sebagai bagian dari operasi intelijen, kami malah mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Karena kami langsung ditangkap dan digiring petugas keamanan bandara Ben Gurion!

Hanya bisa pasrah, oleh karena memang tidak tahu skenario apalagi yang harus dijalankan, yang ada hanya manut saja dengan hati berdebar.


Tamatlah riwayatku kini. Kubayangkan, betapa hebatnya agen rahasia Mossad yang dapat dengan cepat mengendus penumpang gelap tanpa paspor yang berusaha menyelundup masuk ke negaranya.

Meski dengan sopan si Mossad memperlakukan kita, namun tetap saja kami berpikiran buruk.

Kami semua akan langsung dideportasi atau dihukum mati minimal dipenjara seumur hidup. Sebab tidak ada bukti, siapa yang memberi perintah datang ke Israel.

Sampai diruang bawah tanah, perasaan kami tenang setelah melihat para perwira BIA yang dilibatkan dalam Operasi Alpha ada disana. Kemudian baru aku tahu, kami memang sengaja di-skenario-kan untuk ditangkap dan justru bisa lewat ‘jalur khusus’ guna menghindari public show apabila harus ke luar lewat jalur umum.

Kami langsung menerima brifing singkat mengenai berbagai hal yang harus diperhatikan selama berada di Israel. Yang tidak enak adalah kegiatan sesudahnya yaitu sweeping segala macam barang bawaan yang berlabel made in Indonesia.

Kami juga diajarkan untuk menghapal sejumlah kalimat bahasa Ibrani, “Ani tayas mis Singapore” yang artinya aku penerbang dari Singapura. Ada sapaan “boken tof ” berarti selamat pagi dan shallom sebagai sapaan saat bertemu dengan kawan.
Eliat, Pangkalan Udara Rahasia

Semalam tidur di hotel, kami kemudian diangkut dalam satu mobil van menuju arah selatan menyusuri Laut Mati. Setelah dua hari perjalanan, kami sampai dikota Eliat.



Perjalanan dilanjutkan kembali ditengah padang pasir, setelah melewati beberapa pos jaga, akhirnya van masuk ke sebuah pangkalan tempur besar diwilayah barat kota Eliat.

Di Israel, pangkalan tidak pernah memiliki nama pasti. Nama pangkalan hanya berupa angka dan bisa berubah.

Bisa saja nama pangkalan itu adalah base number nine dihari tertentu, namun esoknya bisa diganti dengan angka lain. Sesuai kesepakatan bersama, kami menyebut tempat ini dengan ‘Arizona’ oleh karena dalam skenario awal kami memang disebutkan akan berlatih terbang di Amerika.

Total waktu rencana pelatihan selama empat bulan. Selama itu para penerbang melaksanan kegiatan pelatihan, dari ground school hingga bina terbang, agar mampu mengendalikan pesawat A-4 Skyhawk. Latihan terbang diawali dengan general flying sebanyak dua jam, ditemani instruktur Israel.

Setelah itu, kami semua sudah boleh terbang solo. Latihan kemudian dilanjutkan dengan pelajaran yang lebih tinggi tingkat kesulitannya. Kali ini kami harus mampu mengoperasikan pesawat A-4 sebagai alat perang.

Selama di Eliat, walau terjadi berbagai macam masalah, namun tidak sampai mengganggu kelancaran latihan. Masalah utama tentunya bahasa, sebab tidak semua penerbang Israeli Air Force (IAF) bisa berbahasa Inggris, sedangkan kami tidak diajari berbahasa Ibrani secara detail.

Masalah lain adalah telalu ketatnya pengawasan yang diberlakukan kepada para penerbang. Bahkan kami semua selalu dikawani satu flight pesawat tempur selama berlatih.

A-4 Skyhawk, Israeli Air Force (IAF) sedang bermanufer (aereo.jor.br)
Pelajaran terbang yang efektif. Misalnya terbang formasi tidak perlu jam khusus tetapi digabung latihan lain seperti saat terbang navigasi atau air to air, sehingga dengan jam yang hanya diberikan sebanyak 20 jam/20 sorti, kami semua dapat mengoperasikan A-4 sebagai alutsista.

Dalam siklus ini pula, aku pernah menembus sistem radar Suriah dengan instruktur ku!

Latihan terbang kami berakhir tanggal 20 Mei 1980 dengan dihadiri oleh beberapa pejabat militer Indonesia yang semuanya hadir dengan berpakaian sipil. Kami mendapat brevet penerbang tempur A-4 Skyhawk dari IAF. Rasanya bangga, oleh karena kami dididik penerbang paling jago di dunia.

Namun kegembiraaan selesai pendidikan segera berubah sedih, oleh karena brevet dan ijazah langsung dibakar didepan mata kami oleh para perwira BIA yang bertindak sebagai perwira penghubung.

Kami dikumpulkan di depan mess dan barang-barang kami disita lalu segera dibakar. Termasuk brevet, peta navigasi, catatan pelajaran selama dipangkalan ini. Mereka hanya berpesan, tidak ada bekas atau bukti kalau kalian pernah kesini. Maka hapalkan saja dikepala semua pelajaran yang pernah diperoleh!


Wing Day di Amerika

Selesai pendidikan di Israel, kami tidak langsung pulang ke Indonesia, namun diterbangkan dulu ke New York. Semalam di New York, kemudian diajak ke Buffalo Hill di dekat air terjun Niagara.

Air terjun Niagara Falls
Ternyata kami sengaja dikirim kesana untuk bisa melupakan kenangan tentang Israel. Kami diberi uang saku yang cukup banyak menurut hitungan seorang Letnan Satu.

Aku juga dibelikan kamera merek Olympus F-1 lengkap dengan filmnya dan diwajibkan mengambil foto-foto dan mengirim surat atau kartu pos ke Indonesia untuk menguatkan alibi, bahwa kami semua benar-benar menjalani pendidikan terbang di AS.

Akhirnya selama ada objek yang menunjukkan tanda medan atau bau AS, pasti langsung dipakai sebagai background foto. Tidak terkecuali pintu gerbang hotel, nama toko bahkan sampai tong sampah bila ada tulisan United State of America pasti dijadikan sasaran foto.

Aku dibawa lagi ke New York, para penerbang kemudian diberikan program tur keliling AS selama dua minggu, mencoba tidur di sepuluh hotel yang berbeda dan mencoba semua sarana transportasi dari pesawat terbang hingga kapal, wow!

Yuma Air Station – Northrop F-5E ‘Tiger’ VMFT-401 USMC MCAS Yuma, Arizona USA (airshowactionphotography.com)


Di Yuma, Arizona, kami telah diskenariokan masuk latihan di pangkalan US Marine Corps (USMC), Yuma Air Station. Tiga hari dipangkalan tersebut, kami dibekali dengan pengetahuan penerbangan A-4 USMC, area latihan dan mengenal instrukturnya.

Kami juga wajib berfoto, seakan-akan baru diwisuda sebagai penerbang A-4, sekaligus menerima ijasah versi USMC. Ini sebagai penguat kamuflase intelijen, bahwa kami memang dididik di AS. Salah satu foto wajib adalah berfoto di depan pesawat-pesawat A-4 Skyhawk USMC!

Sebelum pulang ke tanah air, aku juga mendapat perintah untuk menghapalkan hasil-hasil pertandingan bulu tangkis All England. Tambahannya, aku juga diharapkan menghapal beberapa peristiwa penting yang terjadi di dunia, selama aku diisolasi di Israel. Pelajaran mengenai situasi dunia luar tersebut terus diberikan, meskipun kami sudah berada di perut pesawat Branif Airways dengan tujuan Singapura.




Sang Merpati Hinggap

Tanggal 4 Mei 1980, persis sehari sebelum pesawat C-5 Galaxy USAF mendarat di Lanud Iswahyudi Madiun yang mengangkut F-5 E/F Tiger II dan paket A-4 Skyhawk gelombang pertama, terdiri dua pesawat single seater dan dua double seater tiba di Tanjung Priok.

Pesawat-pesawat tersebut diangkut dengan kapal laut langsung dari Israel, dibalut memakai plastik pembungkus, cocoon berlabel F-5. Dengan demikian, seakan-akan menjadi satu paket proyek kiriman pesawat terbang, namun diangkut dengan media transportasi berbeda.





Nantinya ketika sudah kembali lagi di Madiun, kepada atasan pun kukatakan bahwa pelatihan A-4 adalah di Amerika. Sebagai bukti kuperlihatkan setumpuk fotoku selama berada di Amerika. Ingin melihat foto New York, aku punya. Mau melihat foto Akademe AU di Colorado, aku punya.

Karena percaya, atasanku di Wing-300 malah sempat berkata, “Saya kira tadinya kamu belajar A-4 di Israel, enggak tahunya malah di Amerika. Kalau begitu isu tersebut enggak benar ya?”

Last but not least, gelombang demi gelombang pesawat A-4 akhirnya datang ke Indonesia setiap lima minggu, lalu semuanya lengkap sekitar bulan September 1980.


Berprestasi Tapi Harus Menutup Diri

Saat F-5 datang ke Indonesia, ternyata masih belum dilengkapi dengan persenjataan. Sedangkan A-4 justru sudah dipersenjatai dan langsung bisa digunakan dalam tugas-tugas operasional. Sehingga apa saja kegiatan TNI AU baik operasi maupun latihan selalu identik dengan F-5, walau kadang-kadang yang melakukannya adalah pesawat A-4.

A-4 tetaplah A-4 dan samasekali bukan F-5. Kondisi serba rahasia bagi armada A-4 bertahan sampai perayaan HUT ABRI tanggal 5 Oktober 1980, dimana fly pass pesawat tempur ikut mewarnai acara tersebut.

Pesawat A-4 tampil bersama-sama F-5 dimana untuk pertama kalinya pesawat A-4 dipublikasikan dalam event besar. Setelah ini, sedikit demi demi sedikit mulailah keberadaan A-4 dibuka secara jelas. Tidak ada lagi tabir yang sengaja dipakai untuk menutupi keberadaan pesawat A-4 di mata rakyat Indonesia.




Mencari detail tentang Operasi Alpha susahnya minta ampun, karena tidak ada penerbang yang berangkat ke Israel selain Djoko Poerwoko yang mau menceritakan pengalamannya. Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk beliau yang mau menceritakan pengalamannya didalam 3 buku, walaupun mencari buku tersebut juga susahnya bukan main.

Buku “My Home My Base” hanya untuk kalangan internal TNI AU, Buku “Fit Via Vi” yang merupakan otobiografi dari beliau juga masih merupakan cetakan untuk kalangan terbatas.

Buku “Menari di Angkasa” adalah buku “Fit Via Vi” yang dicetak untuk umum, walaupun begitu tetep aja susah nyarinya (saya merasa beruntung memilikinya). Bahkan dibuku otobiografinya Benny Moerdani tidak dibahas sama sekali.

Terimakasih juga untuk Metro TV yang beberapa bulan lalu juga menayangkan tentang Operasi Alpha dalam acara Special Operation (di liputan tersebut ada wawancara dengan Djoko Poerwoko dan satu orang pilot lagi, tapi lupa namanya).




Kontroversi tentang pengungkapan pembelian A-4 dari Israel ke publik juga diungkap oleh beliau dibukunya, beliau menulis:

“Saat buku ‘My Home My Base’ diluncurkan, ada polemik yang menyisakan kenangan, yaitu cerita tentang keterlibatan ke Israel untuk mengambil A-4 Skyhawk. Banyak orang mempertanyakan, mengapa aku mengumbar rahasia negara. Dengan singkat hanya kujawab, “Siap, saya sudah minta ijin KASAU dan beliau mengijinkan, karena kita sebagai prajurit tidak boleh selamanya membohongi rakyat. Maka mereka yang bertanya pun tidak lagi berkomentar.

Memang, didalam buku “My Home My Base” kutulis sedikit tentang perjalanan ke Israel untuk berlatih terbang A-4. Bukan untuk mencari sensasi, aku sudah menimbangnya masak-masak untung dan ruginya.

Namun sebelumnya. tentu saja aku minta ijin KASAU sebagai salah satu senior A-4 dan pemimpin tertinggi Angkatan Udara. Beliau (pak Hanafie) ternyata mengizinkan, sehingga tulisan itu go ahead.”

Sebagai informasi tambahan, hingga saat ini bahkan setelah A-4 di grounded pada tahun 2004, Mabes TNI AU tidak pernah mengakui operasi alpha pernah terjadi!

Pilot tempur AURI berpose bersama dengan latar belakang pesawat tempur F-86 Sabre
Source : indocropcircles.wordpress.com

Title: Top Secret Terkuak! “Operasi Alpha” Saat Rezim Orde Baru
Posted by:Unknown
Published :2013-11-03T10:36:00+07:00
Rating: 3.5
Reviewer: 5 Reviews
Top Secret Terkuak! “Operasi Alpha” Saat Rezim Orde Baru