Jumat, 22 Maret 2013

Adisutjipto, Legenda Angkatan Udara Indonesia

Adisutjipto, kesatria penjaga langit Indonesia

Quote:Quote:

Kalau Adisutjipto tidak nekat menerbangkan pesawat bobrok peninggalan Jepang, entah apa nasib Angkatan Udara Republik Indonesia. Adisutjipto adalah orang yang merintis penerbangan AURI, membangun sekolah penerbang dan melakukan berbagai misi kemanusiaan lewat udara di tengah serangan Belanda. Hidupnya dihabiskan membangun kekuatan udara RI tanpa lelah. Di langit pula kesatria udara ini mengakhiri hidupnya.


Adisutjipto lahir tanggal 4 Juli 1916 di Salatiga, Jawa Tengah. Otaknya encer dan prestasinya di sekolah sangat memuaskan. Lulus dari Algemene Middelbare School (AMS) Semarang tahun 1936, dia ingin melanjutkan masuk Akademi Militer Belanda di Breda. Namun sang ayah menyarankan Adisutjipto masuk Geneeskundige Hooge Shool (Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta.

Tjipto diam-diam mengikuti tes dan diterima di Militaire Luchtvaart Opleidings School atau Sekolah Penerbangan Militer di Kalijati Subang. Tjipto lulus lebih cepat dan mendapat nilai yang sangat baik. Dia berhak menyandang pangkat letnan muda udara. Tjipto juga mendapat brevet penerbang kelas atas. Konon dialah satu-satunya orang Indonesia yang saat itu
mempunyai brevet penerbang kelas atas.

Dalam buku Bakti TNI Angkatan Udara 1946-2003 ditulis Tjipto kemudian mendapat tugas di Skadron Pengintai di Jawa. Saat Jepang mengalahkan Belanda, seluruh penerbang Belanda dibebastugaskan. Tjipto kembali ke Salatiga dan bekerja sebagai juru tulis. Di kota ini pula Tjipto menyunting seorang gadis bernama Rahayu.


Setelah kemerdekaan, tanggal 5 Oktober 1945 juga dibentuk Tentara Keamanan Rakyat Jawatan Penerbangan. Surjadi Suryadarma yang memimpin jawatan ini memanggil Adisutjipto untuk membantu membentuk angkatan udara. Kondisi angkatan udara saat itu sangat memprihatinkan. Tidak ada pilot, tidak ada mekanik pesawat, tidak ada dana, hanya ada beberapa pesawat tua peninggalan Jepang.

Spoilerfor Tentara Keamanan Rakyat Jawatan Penerbangan:

Tapi Adisutjipto nekat menerbangkan pesawat-pesawat itu. Tanggal 10 Oktober 1945 dia berhasil menerbangkan pesawat jenis Nishikoren yang dicat merah putih dari Tasikmalaya ke Maguwo, Yogyakarta. Tanggal 27 Oktober 1945 dia berhasil menerbangkan pesawat Cureng berbendera merah putih di sekitar Yogya. Bukan tanpa maksud Tjipto melakukan itu. Hal ini dilakukannya untuk memompa semangat perjuangan rakyat.

Spoilerfor Nichikoren:


Tanggal 1 Desember 1945, Adisutjipto dan Surjadi Suryadarma mendirikan sekolah penerbang. Lagi-lagi dalam situasi serba kekurangan. Tjipto menjadi instruktur, sementara Surjadi mengurus administrasi. Angkatan pertama, ada 31 siswa yang mengikuti sekolah penerbangan itu. Hanya bermodal pesawat tua tidak menyurutkan langkah para perintis TNI AU ini untuk belajar.

"Kalian menerbangkan peti mati," ujar para penerbang Kerajaan Inggris yang mengunjungi Lanud Maguwo Yogyakarta tahun 1945. Para penerbang itu geleng-geleng melihat deretan pesawat Cureng buatan Jepang yang jumlahnya tidak seberapa di landasan pacu. Pesawat Cureng itu buatan tahun 1933, beberapa kondisinya jauh dari layak. Karena itu tidak salah jika pilot Inggris menyebutnya peti mati terbang.

Spoilerfor pesawat "CURENG":



Tapi Kepala Sekolah Penerbang Maguwo, Komodor Adisutjipto, cuek saja mendengar ucapan tentara Inggris itu. Kadet-kadet sekolah penerbang itu mencatat prestasi membanggakan. Bukan hanya mencatat zero accident, Suharnoko, Harbani, Soetardjo Sigit dan Moeljono berhasil mengebom tangsi-tangsi Belanda di Salatiga, Ambarawa dan Semarang.

Tahun 1947, Adisutjipto dan rekan-rekannya ditugasi pemerintah RI untuk mencari bantuan obat-obatan bagi Palang Merah Indonesia. Bantuan didapat dari Palang merah Malaya, sementara pesawat angkut Dakota VT-CLA merupakan bantuan dari saudagar di India. Penerbangan dilakukan secara terbuka. Misi kemanusiaan ini telah mendapat persetujuan dari Belanda dan Inggris.

Namun tanggal 29 Juli 1947, saat pesawat hendak mendarat di Maguwo, tiba-tiba dua pesawat pemburu Kitty Hawk milik Belanda muncul. Pesawat pemburu tersebut langsung menembaki Dakota yang ditumpangi Tjipto dan rekan-rekannya. Pesawat jatuh dan terbakar, Tjipto dan tujuh rekannya gugur. Hanya satu yang berhasil selamat. Entah apa maksud Belanda melanggar kesepakatan, namun diduga karena ingin membalas serangan kadet-kadet Indonesia yang mengebom tangsi Belanda.

Spoilerfor bekas Dakota VT-CLA:






Adisutjipto baru berumur 31 tahun saat gugur. Keberanian dan semangatnya terus diceritakan dari generasi ke generasi. Memotivasi para penerbang TNI AU untuk melakukan hal serupa. Atas jasa-jasanya pemerintah memberikan gelar Bapak Penerbang Republik Indonesia pada Adisutjipto. Lapangan Udara Maguwo pun diubah namanya menjadi Lanud Adisutjipto.

Quote:
Kalo dulu ga ada Dia, mungkin sekarang Indonesia ga akan jadi gini ya gan

Spoilerfor TNI-AU:



Sumber : merdeka.com
Title: Adisutjipto, Legenda Angkatan Udara Indonesia
Posted by:Unknown
Published :2013-03-22T18:09:00+07:00
Rating: 3.5
Reviewer: 5 Reviews
Adisutjipto, Legenda Angkatan Udara Indonesia

[KISAH NYATA] Akibat Terlalu Benci Indonesia

Ane dapet cerita menarik dari kaskus. Silahkan disimak

Ini Kisah nyata ane sewaktu berada di korea beberapa bulan ke belakang, waktu itu ane dapat tugas mewakili Indonesia (Tugas Negara, hehehe) dan berangkatlah ane ke Korea tepatnya di kota Seoul. Ga usah panjang lebar ya gan, langsung aja ke intinya, di sana ane ketemu orang Timor Leste yang bertugas sama dengan ane, orang ini lumayan deket dengan ane (mungkin supaya ga usah cape2 ngomong english kalo sama orang indo bisa ngobrol pake bahasa Indo).

Terus terang, orang ini menyebalkan juga karena bener2 benci sama Indonesia dan sering menjelekkan negara kita (negara korup lah, banyak pengamen di bis lah, banyak orang miskinnya lah, banyak area kumuhnya lah) apa dia ga ngaca ya negaranya tidak lebih baik dari kita, dan yang lebih parah dia cerita2 sama orang dari negara lain tentang keburukan negara kita
Suatu waktu kami jalan2 buat hunting barang buat oleh2, dan seperti diketahui bahwa harga barang2 di Korea mahalnya luar binasa, harga kaos kualitas standar aja bisa mencapai 100rb won = Rp 850rb an lah (memang gila harga barang di negara ini).. Pas hunting barang tau2 dia nemu jaket bagus dengan harga murah banget sehingga dia senang bukan main sampe2 jaketnya langsung masuk tas takut ane rebut kali, hehehe.

Setelah hunting, kami pulang ke penginapan naik bis dan di dalam bis dia terus melihat2 jaket yang baru dia beli, tapi yang bikin kaget dia tiba2 manyun ga seceria sebelumnya, terus dia ngejelek2in jaketnya, karena penasaran ane liat jaketnya, dimana letak jeleknya, ane terus perhatikan tuh jaket dan langsung tau jawabannya kenapa tuh jaket tiba2 jadi jelek
.


ternyata di TAG JAKET TERDAPAT TULISAN:

MADE IN INDONESIA


Pantes murah dan bagus kata ane sambil susah berhenti liat ekspresi mukanya yang campur

Quote:Original Posted By TS
gan biar pada tau produk Indonesia bisa bersaing di dunia Internasional dan kualitasnya cukup bagus dengan harga murah, thread ini juga mudah2an jadi pelajaran buat bangsa kita yang terlalu mengagungkan produk luar negeri


Ane ga menganggap semua orang Timor Leste benci Indonesia, mungkin kebetulan aja ane ketemu oknum

Ini betul2 real gan bukan hoax tapi ane ga mau nampilin foto orangnya, ga enak siapa tau anaknya kaskuser karena meskipun benci Indonesia, dia menyekolahkan anaknya di Indonesia gan (tragis + miris)

Sumber : Kaskus
Title: [KISAH NYATA] Akibat Terlalu Benci Indonesia
Posted by:Unknown
Published :2013-03-22T18:02:00+07:00
Rating: 3.5
Reviewer: 5 Reviews
[KISAH NYATA] Akibat Terlalu Benci Indonesia

Selasa, 19 Maret 2013

As-Sunnah adalah dasar Hukum Islam yang tidak boleh ditinggalkan


Para pembaca rahimakumullah, sebelum kita masuk kepada pembahasan ini, perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan As-Sunnah di sini adalah setiap ucapan, perbuatan, dan ketetapan Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam yang sering disebut dengan hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
     
  Belakangan banyak bermunculan pihak-pihak yang berani menyatakan bahwa hewan buas tidak haram, dengan alasan bahwa yang diharamkan dalam Al-Qur`an hanya 4 macam saja, yaitu sebagaimana dalam surat Al-An’am: 145, “Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.”

        Adapun selainnya maka berarti halal. Bahkan muncul pihak-pihak yang dengan tegas mengatakan bahwa anjing halal untuk dimakan. Tentu saja, alasan mereka adalah dalam rangka berpegang kepada teks ayat Al-Qur’an. Apabila ada makanan lain di luar 4 macam di atas yang dinyatakan haram juga, maka berarti menyalahi teks ayat di atas. Mereka adalah pihak-pihak yang mengklaim hanya berpegang kepada Al-Qur`an saja sebagai landasan satu-satunya dalam syari’at ini. Adapun As-Sunnah menurut mereka bukan landasan hukum syari’at. Atau setidaknya, jika ada hadits “bertentangan” dengan Al-Qur’an, maka hadits tersebut harus gugur.
        Hal ini mengingatkan kita akan berita yang pernah disampaikan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: Dari sahabat al-Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallaahu ‘anhu dari Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya diberikan kepadaku Al-Kitab (Al-Qur`an) dan yang semisalnya (yakni As-Sunnah/Al-Hadits) bersamanya. Ketahuilah hampir tiba masanya seorang pria yang kenyang di atas singgasananya. Dia berkata: ‘Wajib atas kalian berpegang dengan Al-Qur`an ini (saja). Apa yang kalian dapatkan di dalamnya sesuatu yang halal, maka halalkanlah, dan apa yang kalian dapatkan di dalamnya sesuatu yang haram maka haramkanlah.’

        (Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda): “Ketahuilah, sesungguhnya tidak halal bagi kalian daging himar (keledai) jinak, tidak pula setiap hewan buas yang berkuku tajam, demikian pula barang temuan milik orang kafir mu’ahad.” (HR. Abu Dawud 4604)
        Dalam riwayat lain dengan lafazh:
“Padahal sesungguhnya apa yang diharamkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sama kedudukan dengan apa yang diharamkan oleh Allah.” (HR. at-Tirmidzi no. 2664, Ibnu Majah no. 12)
        Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullaahu ta’ala berkata,  “Yakni apa yang dihalalkan dan diharamkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sama kedudukannya dengan apa yang diharamkan dan dihalalkan oleh Allah subhaanahu wa ta’ala.
        Dari sahabat al-’Irbadh bin Sariyah as-Sulami radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, sungguh demi Allah, saya telah memberikan nasehat, saya telah menyampaikan perintah dan larangan tentang berbagai permasalahan, sesungguhnya (yang saya sampaikan itu) benar-benar sebanding dengan Al-Qur`an atau lebih banyak…” (HR. Abu Dawud no. 30350)
        Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat bahwa As-Sunnah juga sumber syari’at Islam di samping Al-Qur’an, tentunya dengan syarat As-Sunnah yang shahih atau hasan. Tidak ada satu hadits shahih pun yang maknanya bertentangan dengan ayat Al-Qur’an. As-Sunnah merupakan sumber hukum yang independen. Sebagaimana Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah, maka As-Sunnah juga merupakan wahyu dari Allah. Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman, “Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Al-Kitab dan Al-Hikmah kepadamu.” (An-Nisa`: 113)
        Banyak ulama yang menjelaskan bahwa makna “Al-Hikmah” adalah As-Sunnah.
        Allah subhaanahu wa ta’ala menamakan sabda-sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallamsebagai wahyu dalam firman-Nya, “Tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)
        Dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr rahimahullaahuma berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallambersabda sambil mengisyaratkan jari beliau ke bibir beliau, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya tidaklah keluar darinya (yakni dari bibir beliau yang mulia) kecuali haq.” (HR. Abu Dawud no. 3646, AhmadII/162)
        Sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu juga meriwayatkan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Tidaklah aku bersabda kecuali kebenaran.” (HR. at-Tirmidzi no. 1990,Ahmad II/340)
        Al-Imam Hassan bin ‘Athiyyah rahimahullaahu ta’ala berkata, “Jibril turun kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa As-Sunnah, sebagaimana ia (Jibril) turun kepada beliau dengan membawa Al-Qur`an.” (HR. ad-Darimi no. 587. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullaahu ta’ala berkata dalamFathul Bari (XIII/291), “Sanadnya shahih.”)
Al-Qur’an Memerintahkan untuk Menaati dan Mengamalkan As-Sunnah sebagaimana Menaati dan Mengamalkan Al-Qur’an (Lihat dalil-dalilnya di Buletin Al Ilmu no. 19 dengan judul Jalan Menuju al-Jannah)

        Maka barang siapa berkeyakinan hanya mengamalkan Al-Qur’an saja dan tidak mau kepada As-Sunnah, maka sungguh dia telah mendustakan dan mengingkari Al-Qur’an itu sendiri. Jadi, tidak mungkin seseorang mengatakan mengikuti Al-Qur’an saja tanpa As-Sunnah, atau sebaliknya. Al-Qur’an dan As-Sunnah saling terkait dan tidak bisa lepas satu sama lain. Bahkan Allah ‘azza wa jalla mengancam orang-orang yang meninggalkan As-Sunnah. Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:
“Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; (namun) jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir.” (Ali ‘Imran: 32)

        Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullaahu ta’ala menjelaskan, “Kemudian Allah berfirman memerintahkan kepada semua manusia, baik umum maupun khusus, (Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; (namun) jika kalian berpaling) yakni jika kalian menyelisihi perintah beliau (maka sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir”) menunjukkan bahwa menyelisihi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam thariqah (metode pemahaman dan aplikasi agama) adalah kekufuran. Allah tidak mencintai orang yang bersifat demikian – meskipun ia mengaku mencintai Allah dan senantiasa bertaqarrub kepada-Nya – sampai benar-benar mau mengikuti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

        Ketika mengamalkan As-Sunnah tidak perlu melihat terlebih dahulu apakah hukum tersebut ada dalam Al-Qur’an ataukah tidak. Karena selama As-Sunnah itu shahih, pasti selaras dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an. Pada suatu hari, al-Imam Sa’id bin Jubair menyampaikan hadits dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba ada seseorang yang berkata: “Di dalam Kitabullah (Al-Qur`an) ada yang berbeda dengan hadits ini.’ Maka Al-Imam Sa’id bin Jubair berkata, “Tidakkah kau perhatikan bahwa aku menyampaikan hadits ini dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam namun engkau berani mempertentangkannya dengan Kitabullah?! Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam lebih mengerti tentang Kitabullah daripada kamu!” (HR. ad-Darimi no. 589)

        Suatu hari, tatkala sahabat yang mulia ‘Imran bin Hushain radhiyallaahu ‘anhu menyampaikan hadits-hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba ada seorang pria memprotes, “Berilah kami ayat-ayat Al-Qur`an saja!” Maka ‘Imran pun marah mendengarnya seraya mengatakan, “Sungguh kamu ini orang yang dungu/pandir! Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an perintah zakat, namun di manakah ketentuan pada tiap dua ratus dirham ada jatah lima dirham (yakni ketentuan 2,5%)? Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an perintah shalat, namun di manakah ketentuan Shalat Zhuhur atau ‘Ashr 4 rakaat? Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an perintah Thawaf, namun di manakah ketentuan thawaf di Ka’bah 7 kali dan Sa’i antara Shafa dan Marwah juga 7 kali?! Itulah hukum yang ditetapkan oleh Al-Qur’an, dan ditafsirkan (diterangkan) oleh As-Sunnah.” (lihat Ahadits fi Dzammil Kalam wa Ahlihi II/81)

        Hadits (As-Sunnah) yang shahih tidak mungkin bertentangan dengan Al-Qur’an. Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling mengerti tentang Al-Qur’an dibandingkan siapapun. Tidak mungkin beliau bersabda tentang sesuatu yang bertentangan dengan firman Allah subhaanahu wa ta’ala. Sesungguhnya As-Sunnah berfungsi sebagai tafsir dan penjelas ayat-ayat Al-Qur’an. “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu (Muhammad) menerangkan pada umat manusia wahyu yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (Al-Nahl: 44)

        Perlu diketahui, terkadang As-Sunnah menyebutkan hukum tersendiri yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Contohnya, dalam Al-Qur’an diharamkan menikahi dua wanita bersaudara (kakak beradik) secara bersamaan, maka As-Sunnah menambahkan hukum baru, yaitu mengharamkan pula menikah wanita dan bibinya secara bersamaan. Demikian pula As-Sunnah menyebutkan hukum jatah warisan bagi nenek adalah seperenam, yang hukum ini tidak ada penyebutannya dalam Al-Qur’an. Maka itu semua wajib kita imani, kita terima, dan kita amalkan.

        Ada dua orang pria dari kalangan Khawarij datang kepada khalifah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz v, dua orang ini termasuk yang mengingkari syariat hukum rajam bagi pelaku zina (yang sudah menikah), dan keharaman menikahi wanita bersama bibinya sekaligus, dengan alasan bahwa hukum tersebut tidak ada dalam Al-Qur’an. Maka ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz bertanya kepada mereka berdua, “Berapa kali Allah mewajibkan shalat kepada kalian?” Mereka berdua menjawab, “Shalat lima waktu dalam sehari semalam.” Kemudian khalifah bertanya lagi tentang jumlah rakaatnya, yang kemudian dijawab oleh mereka, lalu Khalifah bertanya lagi tentang kadar dan nishab zakat, mereka pun menjawabnya.
        Lalu khalifah bertanya, “Apakah kalian berdua mendapatkan ketentuan hukum-hukum tersebut dalam Al-Qur’an? Dua orang tersebut menjawab, “Kami tidak mendapatinya  dalam Al-Qur’an.” Khalifah bertanya lagi, “Maka dari mana kalian mengetahui ketentuan hukumnya?” Kedunya menjawab, “Hal itu telah dipraktekkan oleh Rasulullah dan kaum muslimin.” Maka Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz lantas berkata, “Demikian pula ini (yakni hukum rajam bagi pelaku zina (yang sudah menikah), dan keharaman menikahi wanita bersama bibinya sekaligus juga dijelaskan dan diamalkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam) (lihat Al-Mughni VII/115)
        Terkecuali apabila haditsnya adalah hadits yang dha’if (lemah) atau mau’dhu’ (palsu), maka kita tidak boleh mengimani dan tidak boleh mengamalkannya.
        Adapun yang wajib diimani, diterima, dan diamalkan adalah hadits-hadits (As-Sunnah) yang shahih periwayatannya dari Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
        Wallahu a’lam bish shawab.
Penulis: Ustadz Ahmad Alfian hafizhahullaahu ta’ala
sumber: buletin-alilmu.com  Tab: Aqidah
Title: As-Sunnah adalah dasar Hukum Islam yang tidak boleh ditinggalkan
Posted by:Unknown
Published :2013-03-19T17:20:00+07:00
Rating: 3.5
Reviewer: 5 Reviews
As-Sunnah adalah dasar Hukum Islam yang tidak boleh ditinggalkan

Shalat Kafarat

POSTINGAN DI HAPUS !!!...
Title: Shalat Kafarat
Posted by:Unknown
Published :2013-03-19T17:12:00+07:00
Rating: 3.5
Reviewer: 5 Reviews
Shalat Kafarat